AOL -- Dunsanak yang lahir pada tahun 50an hingga 70an tentu masih sangat hafal merek-merek dinding bus antar kota yang pernah malang melintang bertahun-tahun di jalanan Sumbar.
Untuk trayek Padang-Bukittinggi pernah jaya nama PO Triarga dan Cemerlang. Tapi keduanya kemudian sudah tinggal kenangan saja. Untung Elly Kasim, penyanyi Minang itu mengabadikan nama kedua bus itu dalam bait lagu. Rute gemuk ini juga diperebutkan oleh ‘dua raksasa’ ketika itu ANS dan NPM. ANS berbasis di Padang, sedang NPM berbasis di Padang Panjang.
Di rute Payakumbuh-Padang ada nama Bintang Kejora, Bunga Setangkai (Pekanbaru - Bukittinggi), TES, Sinamar, Soember, Pozla, dan Bahagia. Kini tinggal Sinamar dan Bahagia yang masih menjalani trayek mereka.
Dari Batusangkar terdengar pula klakson Gumarang, APD, APB dan Minang Jaya. Gumarang lebih banyak mengambil rute Antarkota Antarprovinsi. Sedang yang lain sudah lama tenggelam. Hanya ada dalam kenangan betapa petikan klakson yang khas dengan dendang lagu Minang menghiba-hiba di pendakian Kelok Sikumbang (kawasan antara Padang Panjang dan Simabur)
Yang tak kalah terkenal, Harmonis dan Harmoni, dua ‘pendekar’ yang berani turun naik kelok 44 untuk rute Lubuk Basung – Bukittinggi. Rute dari Lubuk Basung ke Padang dilayani oleh Dagang Pesisir. Sementara dari Pariaman PO Kawan dan Alisma berkejaran berebut penumpang dengan rekan-rekannya dari Lubuk Basung menuju Padang.
Dari Sawahlunto dan Sijunjung nama ADS, HZN dan Dasrat pernah amat jaya. Sama ayanya dengan PO Terang dan Ubani yang mengambil trayek Solok – Padang.
Trayek yang agak lama bertahan adalah Painan – Padang yang dilayani Guntur Super, Habeco, Erlindo dan beberapa yang lain.
Tapi masa keemasan angkutan darat itu kini sudah sirna. “Ada dua hal yang membuatnya demikian. Pertama kecenderungan penumpang yang makin banyak berkenderaan pribadi, kedua penggunaan bus besar ternyata melelahkan orang menunggu, ketiga mismanajemen dan keempat persaingan dengan angkutan jemput antar atau travel,” kata Angga Vircansa Chairul, generasi ketiga keluarga Babak yang meneruskan perusahaan keluarga NPM.
Berikut deretan PO Bus yang paling dominan.
Anas Nasional Sejahtera (ANS)
PO Bus dengan slogan Aman, Nyaman, Sampai Tujuan ini merupakan salah satu transportasi darat yang berhasil merajut kenangan orang Minang atau para perantau Minang dalam perjalanan.
ANS didirkan tahun 1960-an oleh putra Minang yang awalnya berprofesi sebagai pedagangan asongan dari pintu ke pintu rumah warga.
Kisah Anas berawal dari pedagangan asongan dari rumah ke rumah, lalu beralih sebagai penjual rokok.
Usaha menjual rokok cukup mumpuni dan Anas bisa meraup keuntungan yang banyak, sehingga ia membeli sebuah truk untuk pendistribusian.
Kian hari usaha Anas makin cemerlang, hingga mampu membeli beberapa unit truk, rokoknya kini didistribusikan hingga ke Medan.
Pada 1964, Anas mulai menjajal bisinis transportasi Antar Kota Dalam Provinsi (AKDP).
Awalnya, ia membuat PO Panca Bakti rute Padang-Bukittinggi. Terus berinovasi, Anas beralih ke bus besar, menaungi Antar Kota Antar Provinsi (AKAP), dan PO-nya diubah jadi PO Anas Nasional Sejahtera (ANS).
Lambat laun, ANS semakin berkembang dan telah menjadi perusaan transpotasi besar yang lahir dari genggaman putra Minang.
Kemudian, tahun 2015, berdasarkan aturan dari Kementerian Perhubungan PO harus dijadikan PT, maka jadilah PT Anas Nasional Sejahtera (ANS).
Kini, Anas yang begelar Sutan Jamaris telah menghadap Yang Maha Kuasa, ia meninggal dunia dalam usia 89 tahun.
Putra Minang asal Balingka Kabupaten Agam itu meninggal dunia, Jumat (11/3/2022). Ia meninggal dunia di Rumah Sakt Hermina Padang pukul 13.00 WIB.
Naiklah Perusahaan Minang (NPM)
NPM merupakan singkatan dari Naiklah Perusahaan Minang. Perusahaan otobus ini didirikan di Padang Panjang 1937 oleh Bahauddin Sutan Barbangso Nan Kuniang. NPM merupakan bus angkutan umum tertua di Sumatra, bahkan lahir sebelum Indonesia merdeka.
Dikutip dari alaman resmi NPM, surat ketetapan perusahaan itu diterbitkan tahun 1948, dan masih menggunakan bahasa Belanda.
Awal NPM didirikan Bahauddin Sutan Barbangso Nan Kuniang, bus itu melayani beberapa trayek dalam provinsi (Sumatra Barat) saja.
Namun, 1970, PO NPM mulai menjalal tryaek lintas Sumatra, dan menjadi primadona masyarakat Minang, khusunya perantau menuju negeri orang.
Seiring perkembangan zaman, NPM juga mulai menjajal taryek ke Pulau Jawa dari beberapa daerah di Sumbar, seperti Padang, Bukittinggi, Payakumbuh dan lainnya, dengan tujuan Jakarta, Bogor, Depok, Bekasi dan Bandung.
Pada puncak kejayaannya, 1980-an hingga awal 2000-an, jaringan trayek PO NPM membentang mulai dari Medan, Pekanbaru, Dumai, Jambi, Bengkulu, Palembang, dan Bandar Lampung di pulau Sumatra, hingga Jakarta, Bogor, Depok, Bekasi, dan Bandung di pulau Jawa.
Meskipun demikian, PO NPM tetap mengedepankan trayek utama di Sumbar, yaitu Padang-Bukittinggi.
Pada masa jaya angkutan penumpang bus jarak jauh dari akhir dekade 1970-an hingga awal dekade 2000-an, beberapa perusahaan otobus di Sumatra, termasuk NPM menjadi perushaan besar.
Kala itu, NPM bersama perusaan otobus lainnya, yaitu PMTOH (Aceh), PO ALS (Sumatra Utara), PO ANS (Sumatra Barat), dan PO Gumarang Jaya (Lampung), mendominasi jalan raya lintas Sumatra baik lintas tengah maupun lintas timur.
Gumarang Jaya
PO Bus Gumarang Jaya, didirikan Alizar Datuak Bagindo atau yang akrab disapa Pak Uwo. Alizar mendirikan PO Gumarang Jaya tahun 1974 di Lampung.
Awalnya, perantau asal Bukittinggi itu membuka toko ban luar dan pelanggannya bus-bus lintas Sumatra. Namun, ia melihat bus lintas Sumatra kurang baik dan jadwalnya pun tidak teratur, ia berisiatif PO Bus yang diberi nama Gumarang Jaya.
Saya ini bikin (PO) bus, tujuannya utama karena merantau ke Lampung. Dulu, angkutan darat ke Padang susah. Ada mobil, namun tidak teratur," ujar Alizar dikutip dari tayangan video yang diunggah di YouTube Perpalz TV, Minggu (13/3/2022).
Menurut Alizar, PO Bus yang ia dirikan itu tak hanya sebatas Lampung-Bukittinggi atau Padang, namun juga melayani rute hingga ke Aceh.
Dikisahkan Alizar, 1974, pejalanan dari ujung ke ujung (Lampung-Aceh) Pulau Sumatra bisa menghabiskan waktu enam hari tujuh malam, dan akan melewati tujuh penyeberangan (sungai).
"Untuk menyebarang, mobil akan dinaikkan ke atas rakit. Jalur penyeberangan tersebut, yaitu di Sarolangun, Rantau Panjang, Sinamar, Muaro Tebo, Pulau Musang, dan Sungai Dareh," ujar Alizar.
Penyeberangan, kata Alizar, bukan seperti Bakauheni, tapi penyeberangan sungai. "Jadi, bus naik rakit, lalu ditarik dengan tali," ucapnya.
Menurut Alizar, nama Gumarang diambil dari nama Kuda dalam Kaba Cindua Mato. "Andalan Raja Pagaruyung itu Kuda Gumarang. Gumarang digunakan jika Cindua Mato ingin bepergian cepat," jelas Alizar.
Jadi, kata Alizar, ia menamai PO Bus yang didirikan dengan nama Gumarang, karena ingin seperti Kuda Gumaang, dan menjadi andalan masyarakat Sumatra.
Corak yang dihadirkan Alizar di badan bus, juga memaknai marawa, atau bendera orang Minang. Yaitu dengan corak merah, kuning, dan hitam.
"Warna merah kuning hitam itu terinspirasi dari warna Marawa. Itu Marawa yang ada setiap kali acara alek di Minang," sebutnya.
Bahkan, nama Gumarang yang didirikan Alizar ternyata tak hanya pada bus saja, tapi PT Kereta Api Indonesia (KAI) juga melekatkan nama itu pada Kereta Api Jurusan Jakarta-Surabaya.
Sumber: langgam.id/haluan
Penampakan Terminal bus Lintas Andalas Padang pada tahun 1970


