Peluang dan Potensi untuk Memajukan Tanah Datar

Nagari Aie Angek
0

Catatan: Yong Ardinal
Perantau Aie Angek



Visi Keakhiratan

CALON Bupati dan Wabup haruslah yang memiliki visi yang sangat strategis yakni visi keakhiratan sesuai dengan tujuan penciptaan manusia sebagai khalifatullah fil ardh dengan misi beribadah kepada Allah SWT.

Calon Bupati dan Wabup yang sudah punya visi dan misi seperti di atas tentunya akan memimpin dengan cara dan sifat sebagai berikut:

1. Melakukan tugas atau pekerjaan Bupati dan Wabup sebagai ibadah dan semata untuk mencari ridha Allah. Dengan begitu semua tujuan dan keinginan serta tindakan yang bertentangan ketentuan syari'at Islam akan dihindari karena setiap pemimpin akan dimintakan pertanggungjawabannya di akhirat kelak. BUKAN untuk mencari kekayaan atau tujuan-tujuan lain yang bersifat keduniaan.

2. Memudahkan segala urusan dan kebutuhan ummat (masyarakatnya). Artinya menjadi seorang muslim yang mendatangkan manfaat paling banyak kepada masyarakat dengan legitimasi dan kewenangan yang dimiliki sebagai Bupati dan Wabup.

3. Menjawab setiap permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat dengan solusi yang terbaik BUKAN menjawab masalah dengan masalah atau malah melempar tanggung jawabnya.

4. Memiliki integritas dan kejujuran yang paling tinggi dan sesuai kata dan perbuatan. Tidak perlu banyak bicara tetapi setiap yang dibicarakan selalu ada realisasinya.
5. Memiliki nilai-nilai dan sifat-sifat serta akhlak yang mulia lainnya sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah seperti bijaksana, tawadhu, cerdas, tegas, decisive, dan lain sebagainya.

6. Memimpin dengan menerapkan strategic management untuk bidang-bidang pemerintahan dalam artian berupaya menghasilkan manfaat sebanyak mungkin untuk setiap Rupiah yang dibelanjakan oleh Pemerintah.

7. Menggunakan keilmuan dan teknologi terkini untuk mengelola semua bidang bidang pemerintahan untuk peningkatan efisiensi dan efektifitas serta kinerja secara menyeluruh pemerintahan.


Bidang Pertanian, Peternakan dan Perikanan.

Bidang pertanian, peternakan, dan perikanan merupakan sumber penghidupan sebagian besar masyarakat di Kabupaten Tanah Datar.

Secara umum beberapa permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat adalah ketidakpastian harga hasil panen, bibit yang kurang baik, hama dan penyakit serta mahalnya biaya produksi yang juga berakibat pada rendahnya hasil produksi atau nilai jual hasil produksi atau margin keuntungan yang semakin rendah atau bahkan kerugian yang dialami oleh masyarakat.

Berikut adalah beberapa pemikiran berdasarkan pengetahuan dan pengalaman penulis serta pemberitaan keberhasilan dari beberapa kepala daerah yang cukup berhasil.

Pertama, Bupati dan Wabup harus melaksanakan secara konsisten semua kebijakan dan Peraturan Perundangan dari Pemerintah Pusat dalam bidang Pertanian, Peternakan dan Perikanan. Secara umum kebijakan dan Peraturan Perundangan di Indonesia sudah sangat baik untuk tujuan peningkatan perekonomian dan kesejahteraan masyarakat karena dirumuskan oleh para ahli dalam bidangnya masing masing. Tantangannya adalah dalam pelaksanaannya.

Kedua, Pemerintah Kabupaten harus mampu dan memiliki kreatifitas dalam menyediakan bibit unggul untuk kebutuhan masyarakat apakah melalui Balai Benih Holtikultura (BBH), Balai Inseminasi Buatan (BIB), dan Balai Benih Ikan (BBI). Pemerintah Kabupaten harus memiliki pegawai yang ahli serta memiliki integritas, akuntabilitas, dan tanggung jawab tinggi untuk ketiga balai ini dalam menjamin ketersediaan bibit tanaman, ternak dan ikan yang sangat unggul. Sebagai contoh adalah padi dengan umur pendek, produksi tinggi, tahan hama dan rasa enak, jagung yang dapat memiliki tiga tongkol dengan biji yang padat dan baik untuk setiap pohon dengan umur yang pendek dan tahan hama, ikan mas (rayo) seperti ikan mas majalaya yang dapat dipanen tiga atau dua ekor sekilo dalam waktu pembesaran 2.5 bulan atau lele dumbo yang bisa dipanen 5 atau 6 ekor sekilo dalam waktu pemeliharaan 2.5 bulan begitu pula dengan ikan lokal lainnya seperti paweh dan ikan jenis grass carp yang dapat dipelihara dengan mudah dan memakan gulma air.

Untuk ternak bagaimana menyediakan bibit sapi limosin atau simental yang pertumbuhannya cepat atau sapi perah dengan produksi susu tinggi, kambing Etawa dan mengembangkan jenis ternak lokal lainnya yang juga unggul.

Ketiga, Memastikan ketersediaan dan keterjangkauan harga pupuk, pestisida, herbisida, makanan ternak, vitamin, obat, immunisasi dan peralatan serta teknologi pendukung pertanian, peternakan, dan perikanan.

Keempat, Memberdayakakan kembali KUD sebagai pelaku untuk menyalurkan bibit unggul, pupuk, pestisida, herbisida, makanan ternak, makanan ikan, vitamin, obat, imunisasi dan peralatan pendukung lainnya seperti butir 3 di atas dengan sistem milineal.... Artinya KUD akan bertindak sebagai storage dan tempat pengirim atau pengambilan barang toko online ke/oleh petani dan peternak yang terhubung ke BBH, BIB dan BBI serta agen utama pupuk, dan penyalur barang pertanian, peternakan dan perikanan lainnya. Untuk ini pengurus dan pegawai KUD harus memiliki kompetensi dan dibekali dengan pengetahuan, teknologi dan sistem penjualan online dan juga manajemen KUD yang baik.

Kelima, Boleh jadi Petugas Penyuluh Pertanian Lapangan yang dulu ada zaman Pak Harto dihidupkan dan digiatkan kembali yang dapat memberikan pembinaan serta penyuluhan pada petani dan peternak dan juga tambahan fungsi serta tugas lain untuk memantau serta memetakan tingkat produksi dan permasalahan yang dihadapi petani dan peternak untuk dijadikan dasar pembuatan kebijakan serta program unggulan pemerintah kabupaten.

Keenam, Membangun dan meningkatkan sistem irigasi yang terpadu dengan hydro/microhydro power generation dan pembukaan lahan pertanian, peternakan dan perikanan untuk intensifikasi dan ekstensifikasi. Juga peningkatan jalan/akses yang lebih memudahkan ke lahan pertanian serta pasar atau sentra penjualan hasil pertanian, peternakan dan perikanan.

Ketujuh, Memikirkan, membuat, dan melaksanakan kebijakan, program dan sistem untuk menjamin harga jual hasil pertanian, peternakan, dan perikanan yang optimal untuk kesejahteraan petani termasuk memotong jalur distribusi atau mendekatkan petani dan peternak pada end user/customer. Memberdayakan KUD juga atau kerja sama dengan Dep. Store, Toko Online, Jaringan Hotel dan Restoran atau membangun tempat penyimpanan atau pabrik untuk produk olahan dari hasil pertanian, peternakan dan perikanan sehingga nilai tambah/jualnya lebih tinggi dan tidak perlu khawatir produknya cepat rusak karena kalau masih dalam bentuk sayur atau ikan bisa rusak atau busuk.

Sebagai contoh sederhana di Nagari Aie Angek petaninya ahli dalam bertanam Seledri, mungkin bisa ada pabrik mini untuk membuat tepung Seledri. Mungkin bisa membuat bakso ikan dari ikan Paweh dan Taweh, ikan/ayam/daging frozen dan lain sebagainya. Mungkin ini ide gila tapi juga bisa masuk akal. Masyarakat mungkin tidak mudah untuk melakukan ini, tetapi Pemerintah dapat berperan banyak untuk memfasilitasinya. Dapat juga membangun sentra-sentra penjualan produk hasil pertanian, peternakan dan perikanan yang juga melayani penjualan online. Kesemuanya ini juga dapat menimbulkan multiflier effect.

Ini hanya mungkin sebagian saja dari peluang yang ada untuk bidang pertanian, peternakan, dan perikanan tetapi kalau bisa dilaksanakan insyaAllah dapat mengubah perekonomian dan kesejahteraan masyarakat secara signifikan.

Ada banyak cara yang dapat dilakukan untuk merealisasikannya seperti dengan mengundang investor dan kerja sama dengan berbagai Pusat Penelitian Perguruan Tinggi seperti IPB, Unand, UI, USU dlsb. Putra putri TD yang kuliah di berbagai perguruan tinggi tersebut mungkin bisa magang di Pemkab untuk mengisi liburan mereka. Beberapa peluang di atas yang bersinggungan dengan bidang lain akan dibahas pada bidang terkait tersebut


Bidang Pariwisata dan Kebudayaan.

Bidang Pariwisata dan Kebudayaan merupakan salah satu potensi luar biasa yang dimiliki oleh Kabupaten Tanah Datar karena memiliki keindahan alam dan menjadi pusat kerajaan Minangkabau.

Secara umum beberapa permasalahan yang dihadapi dalam bidang Pariwisata dan Kebudayaan adalah belum dikelolanya semua tujuan wisata alam dan budaya dengan maksimal untuk menjadi tujuan wisata yang tidak hanya untuk masyarakat lokal namun juga Nasional maupun Mancanegara, sementara dari dulu potensi wisata Sumbar sudah cukup baik. Lebih spesifiknya adalah jalan atau akses menuju objek wisata, fasilitas akomodasi, tempat parkir, toilet, mushalla, pramuwisata, penyediaan informasi spesifik atau panduan yang memperlihatkan keunikan dari objek tersebut dari yang tidak ada di tempat lain, dan kegiatan serta fasilitas pendukung lainnya yang menjadikan wisatawan lebih tertarik dan ingin kembali lagi untuk kedua, ketiga dan kesekian kalinya.

Berikut adalah beberapa pemikiran berdasarkan pengetahuan dan pengalaman penulis serta pemberitaan keberhasilan dari beberapa kepala daerah yang cukup berhasil.

1. Harus dibangun dan dikembangkan visi kepariwisataan sedemikian rupa sehingga muluk-muluknya kalau turis mau ke Indonesia maka mereka akan ke Tanah Datar dulu baru ke daerah lain seperti Bali, Lombok, Yogyakarta, Sumatra Utara, dlsb. Visi ini harus tinggi, jadi tidak hanya sekedar menunggu limpahan wisatawan yang berkunjung ke Bukittinggi atau hanya untuk masyarakat setempat, karena harus ada multiflier effectnya dengan tetap mempertahankan nilai-nilai utama, adat serta budaya kita dan keunikan lainnya yang kita miliki.

2. Pemerintah Kabupaten harus melaksanakan secara konsisten semua kebijakan dan Peraturan Perundangan dari Pemerintah Pusat yang sudah baik dengan didukung oleh sumberdaya manusia yang berkualifikasi dan profesional untuk menginterpretasikan dan merealisasikannya termasuk dalam hal ini proaktif dalam mempersiapkan dan menghadapi tourism 4.0.

3. Melakukan pendataan terhadap keunikan potensi wisata alam, cagar budaya dan aktivitas budaya dan ragam kesenian yang dimiliki untuk dikembangkan dan mengemasnya dalam bentuk kumpulan informasi yang membuatnya berbeda dari objek wisata yang ada di Sumbar, Daerah, dan Negara lain. Hal ini juga dapat berguna untuk menjadikan atau melengkapi kepariwisataan Tanah Datar sebagai bagian untuk edukasi.

4. Mengembangkan kawasan wisata yang sudah diidentifikasi pada butir 3 di atas dengan menonjolkan keunikannya masing-masing dengan fasilitas pendukung yang tertata rapi, bersih, tertib, aman dan ramah pengunjung. Fasilitas yang dimaksud dapat berupa tempat untuk parkir, menikmati keindahan dan keunikan obyek wisatanya, tempat berfoto, toilet yang bersih dan gratis, tempat sholat/mushalla, tempat makan ringan dan berat, tempat berjualan souvenir. Harus kreatif dalam merancang dan penempatan fasilitas pendukung tersebut sehingga dapat memperlihatkan keunikan Tanah Datar dan tidak mengganggu atau merubah fokus pengunjung.

Sebagai contoh toilet dan mushalla desainnya bisa seperti tipikal arsitektural mushalla di kampung-kampung tetapi dengan polesan modern, dengan bahan heavy duty, sangat bersih, air banyak, hijau dan selaras dengan lingkungan sekitarnya serta mudah dalam pemeliharaan dan perawatannya. Begitu pula dengan fasilitas parkir, tempat makan dan souvenir. Tempat jualan karcis atau tiket masuk mungkin bisa sedemikian rupa tidak merusak pemandangan keseluruhan atau object wisata utamanya. Pedangang asongan ditertibkan dan tidak mengganggu pengunjung. Pramuwisata memandu wisatawan dengan ramah, tulus dan ikhlas serta mencerminkan perilaku dan akhlak masyarakat dengan tingkat dan budaya tinggi.

5. Membangun masyarakat yang sadar wisata sehingga dapat memperlakukan setiap wisatawan dengan baik, sopan, ramah dan menolong (helpful) dan tetap berpegang teguh pada nilai-nilai luhur Islam, adat dan budaya Minang sehingga tidak perlu pula harus meniru perilaku atau tradisi turis asing yang tidak sesuai dengan nilai-nilai Islam, adat dan budaya Minang. Justru diharapkan mereka para turis asing itulah yang akan meniru perilaku dan budaya kita yang lebih baik. Memberdayakan masyarakat untuk berperanserta aktif dalam membentengi anak anak dan masyarakat secara menyeluruh dari berbagai pengaruh negatif terkait kepariwisataan.

6. Membangun atau meningkatkan jalan atau memperpendek jarak dan waktu tempuh menuju lokasi wisata dengan membuat jalan - jalan yang lebar dan mulus. Sebagai gambaran kita harus membuat lebar jalan melebih ketentuan perundangan untuk setiap kelas jalan karena itu sudah tidak sesuai dengan pertambahan kendaraan dan aktivitas lalulintas jalan.

7. Meningkatkan publikasi mengenai tujuan wisata dengan menerbitkan buku panduan, buku saku atau dalam bentuk online yang mudah didapatkan di toko buku, dan diberbagai macam media on line.

Ini semua dapat direalisasikan dengan belajar kepada daerah dan negara yang yang sudah maju dalam mengelola kepariwisataannya, memberdayakan masyarakat setempat, mengundang investor, pelaku industri wisata, arsitek, ahli lingkungan hidup, tata kota, ahli agama dan lain sebagainya.

Berikut beberapa contoh untuk pengembangan obyek wisata yang sudah ada sesuai pemikiran di atas.

1. Kawasan Wisata Danau Singkarak. Mensterilkan daerah antara pantai dan jalan di sekeliling danau dari rumah atau bangunan lainnya. Merapikan dan mengolah pantai danau sehingga menjadi tempat berwisata, bermain, berjalan, bersepeda sambil menikmati keindahan danau dan berfoto. Menata fasilitas dan kegiatan pendukung kepariwisataan seperti tempat parkir, mushalla, toilet, tempat mandi dan ganti pakaian untuk mereka yang berenang di pinggir danau. Mungkin bisa juga ada Masjid Terapung yang menjadi icon wisata sendiri dengan kombinasi arsitektur Islam dan Minangkabau.

Memberdayakan masyarakat untuk mengembangkan homestay, kuliner dan kerajinan lainnya. Jadi tidak perlu ada hotel baru atau restoran dari investor luar. Mungkin tidak perlu ada karcis atau tiket serta bayaran masuk dan parkir. Jadi semuanya gratis. Pemasukkan adalah dari uang yang dibelanjakan wisatawan kepada masyarakat yang yang memiliki kegiatan ekonomi terkait saja. Bisa juga dipadukan dengan kawasan Sumpur dan event atau atraksi budaya lainnya.

2. Kawasan Air Terjun Lembah Anai. Ada balkoni atau teras untuk menikmati keindahannya dan tempat berfoto. Parkir yang tidak mengganggu jalan raya. Pedagang yang tertata rapi, indah dan tertib serta sopan, toilet dan mushalla yang bersih. Tidak ada tambahan bangunan liar. Pelatihan bagi pelaku wisata di sana. Penataan dan pengendalian areal pinggir sungai yang sekarang banyak tempat berenang. Pemastian konservasi dan perlindungan lingkungan hidup di kawasan ini. Tempat nongkrong untuk pesepeda... he..he.. kayaknya banyak sekali yang dapat dilakukan....jadi gregetan...

3. Kawasan benteng For Van Der Capellen..... jadi kawasan wisata bekas kolonial. Kalau ini sudahlah contoh saja Malaka di Malaysia.

4. Instana Pagaruyung.... waduh ini bisa mantap betul kalau dikembangkan dengan tepat dan betul sesuai pemikiran di atas.

5. Gunung Marapi....pendeknya tiru saja Gunung Merapi di Yogya atau Jawa Tengah yang bisa terkenal kemana mana.

6. Kawasan pertanian di ketinggian 600 - 1400 meter dpl bisa jadi kawasan agrowisata juga.

7. Bukit di jalan dari Batusangkar menuju Lintau. Ini luar biasa melihat gugusan bukit barisan......nggak kebanyang banyaknya yang bisa dimaksimalkan... Belum lagi kegiatan dan atraksi budaya...pacu jawi, adu kabau...dlll.. tentunya bukan untuk berjudi.

Beberapa peluang di atas yang bersinggungan dengan bidang lain akan dibahas pada bidang terkait tersebut

Tulisan berikutnya mengenai peluang dan potensi peningkatan kemajuan Kab Tanah Datar untuk bidang pemerintahan lainnya.(Yong Ardinal)

Posting Komentar

0Komentar
Posting Komentar (0)


Media ini tayang pertama kali pada 10 Maret 2009
sebagai media informasi seputar kampung halaman dan rantau.


Tungganai:
. Ketua Ikaira Jaya

Tim Redaksi:
. Oce E Satria Dt Tumuamaik

. Indra Thalib St Lelo Kayo

. Yuliusman Kamil


To Top