Pesona Aie Angek, Romantisme Marapi

Nagari Aie Angek
0


Oleh Muhammad Subhan

Kalaulah Tuan dan Puan datang ke Sumatera Barat dari arah Padang hendak ke Bukittinggi atau sebaliknya, janganlah Tuan lewatkan singgah ke Rumah Puisi dan Rumah Budaya Aie Angek.

Kedua rumah yang memiliki panorama alam yang sangat eksotis ini, dibangun oleh Sastrawan Taufiq Ismail dan Budayawan Fadli Zon. Berhentilah Tuan sejenak di Aie Angek—6 kilometer dari Padangpanjang atau 11 kilometer dari Bukittinggi—tak jauh dari kedai sayur organik Aie Angek terlihatlah bangunan megah nan indah, Rumah Puisi dan Rumah Budaya namanya.

 Rumah Puisi pada dasarnya adalah tempat pelatihan guru dan perpustakaan dengan 7.000 judul buku, sedangkan Rumah Budaya adalah semacam museum mini yang menyimpan koleksi benda-benda sejarah Minangkabau, semisal keris, songket, lukisan, koin, alat-alat musik dan alat-alat masak tradisional yang berusia puluhan hingga ribuan tahun silam.

 Rumah Puisi dan Rumah Budaya diapit oleh sejumlah objek wisata andalan Sumatera Barat dan menjadi sentral kegiatan seni budaya dan sastra di Minangkabau bahkan Indonesia. Berikut gambaran beberapa daerah inspiratif dan rugi rasanya dilewatkan begitu saja bila datang berkunjung ke Ranah Minang: NAGARI AIE ANGEK.

 Aie Angek adalah satu nagari di “Luhak Nan Tuo” Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat, yang berlokasi di lereng Gunung Marapi (2891,3 m), berhadapan dengan Gunung Singgalang (2.877 m), dan Gunung Tandikek (2.438 m) yang menjulang.

 Disebut Aie Angek (air hangat) lantaran di Nagari ini terdapat sumber air panas yang keluar sejak ratusan tahun lalu dari lereng Gunung Marapi dan dijadikan objek wisata serta dikelola masyarakat setempat. Pertanian merupakan sektor utama masyarakat di nagari ini lantaran didukung lahan pertanian yang terbentang luas dan subur. Kondisi cuaca yang sejuk dan selalu diguyur rinai dan kabut menyebabkan sayur mayur bermekaran dan menyejukkan mata memandang.

 Di sepanjang jalan yang membelah nagari ini, di kiri dan kanan, terhampar lahan luas milik masyarakat yang dikelola dengan cara mayoritas masih konvensional. Di tengah-tengah nagari ini terdapat sebuah ‘tabek’ (tebat) atau situ yang seolah kelihatan tepat di bawah kaki Gunung Marapi. Namanya Tabek Busuak.

 Tabek ini sudah diberdayakan anak nagari setempat sebagai arena wisata memancing sejak tahun 1987 dan cukup terkenal di Sumatera Barat. Tabek ini pun merupakan sumber daya alam milik Nagari Aie Angek yang sudah mendapatkan piagam penghargaan dari Kementerian Kelautan RI sebagai sumber daya alam yang dikelola secara mandiri oleh pemerintahan Nagari Aie Angek, dengan melibatkan swadaya masyarakat.

Hasil dari pengelolaan Tabek Busuak ini dipergunakan untuk kepentingan kemajuan pembangunan Nagari Aie Angek, seperti pembangunan masjid, lapangan sepakbola dan sarana-sarana lainnya. Sebagian dibangun dari hasil pengelolaan Tabek Busuak. Sampai saat ini kegiatan pemancingan terus dilakukan setiap enam bulan sekali.

Aie Angek punya beberapa keunggulan yang tidak dimiliki oleh nagari lain di Kabupaten Tanah Datar, di antaranya pasar sayur-mayur, Institut Pertanian Organik (IPO), Kawasan Agribisnis Sayur Organik (KASO) dan Rumah Puisi milik Sastrawan Nasional Dr. Taufiq Ismail. Keunggulan ini bila dikemas dengan profesional, diyakini akan menjadi aset wisata dan budaya paling menjanjikan.

 Nagari ini pernah dicanangkan sebagai Kawasan Sayur Organik oleh Pemerintah Provinsi Sumbar. Petani diarahkan untuk mengolah lahan organik dan menjauhi segala jenis pestisida. Meski tanpa pupuk kimia, sebagian petani di daerah yang memiliki curah hujan cukup tinggi ini terbilang banyak yang sukses.

 Petani memang paham betul bahwa cara konvensional dalam pertanian akan bisa lebih cepat mendatangkan untung besar. Tapi cara-cara itu sebenarnya hanya akan “membunuh” manusia perlahan-lahan karena mengkonsumsi makanan-makan yang telah diracuni pestisida.

 Lalu sebagian petani di Aie Angek mulai tertarik dengan kencing sapi dan kencing kambing untuk dijadikan pupuk. Disamping itu ada juga petani yang meramu sendiri pestisida yang mudah terurai hingga tidak membahayakan tanaman dan tanah.

 Maka tak heran di lahan-lahan pertanian Nagari ini tumbuh subur sayur mayur seperti lobak, sawi, bawang, cabai, bahkan kopi dan strowberry. Sebagian hasil tani itu dipasarkan di Pasar Sayur Aie Angek, maupun ke Pasar Koto Baru dan Pasar Padang Luar Bukittinggi.
 

Antara Singgalang, Marapi, dan Tandikek


Dari Nagari Aie Angek terhampar panorama indah dua gunung yang tak kalah gagahnya dari Gunung Marapi. Dua gunung itu adalah Singgalang dan Tandikek.

Dari ketiga gunung ini, yang paling indah adalah panorama kabut yang turut lembut menyelimut kawasan di antara tiga kaki gunung ini, yaitu Aie Angek Cottage, Rumah Budaya dan Rumah Puisi. Namun kabut hanya akan turun jika gerimis datang menyapa tanah di kawasan itu.


Rumah Puisi Taufik Ismail

Inilah rumah yang didalamnya terpancar aura sastra dari seorang tokoh penyair Indonesia bernama Taufiq Ismail. Rumah Puisi rampung dibangun akhir Desember 2008 lalu. Tujuan didirikannya Rumah Puisi ini, salah satunya sebagai tempat pelatihan guru bahasa dan sastra Indonesia dalam meningkatkan pemahamannya terhadap bahasa dan sastra Indonesia serta meningkatkan kemampuan dalam bidang tulis-menulis.

 Tempat itu juga bisa dipakai untuk kegiatan SBSB (Siswa Bertanya Sastrawan Bicara), acara-acara pertemuan sastra, dan sejumlah kegiatan lainnya. Rumah Puisi juga dilengkapi perpustakaan yang tidak hanya diisi buku-buku dari dalam negeri khususnya koleksi pribadi (7.000-an judul), tetapi juga berbagai buku terbitan luar negeri, baik karya sastra, agama, maupun sejumlah judul lainnya lainnya.
Digagasnya Rumah Puisi sebagai pusat pembelajaran sastra dan bahasa Indonesia antara lain berdasarkan pengalaman Taufiq Ismail selama ini bersama majalah sastra Horison dan pihak-pihak terkait yang sejak 1998 lalu hingga 2008 menyelenggarakan MMAS dan SBSB.

 Hingga kini lebih dari 2.000 guru yang ikut MMAS se-Indonesia yang digelar selama enam hari di 12 kota dengan tim terdiri atas 113 sastrawan dan 11 aktor-aktris yang masuk ke 213 SMA/SMA/MAN. Sedangkan untuk SBSB digelar di 164 kota yang terletak di 31 provinsi.

 Jika Anda berkesempatan menyinggahi Rumah Puisi, di ruang utama Rumah Puisi terdapat sejumlah kursi yang dijadikan tempat pelatihan para guru. Di sekeliling ruangan terpajang berbagai banner dengan tulisan menarik mengajak orang-orang untuk membaca buku dan menulis.

 Di areal Rumah Puisi terdapat sebuah bangunan yang merupakan tempat peristirahatan sastrawan yang diundang ke Rumah Puisi. Bangunan itu memiliki dua buah kamar, layaknya sebuah ruang hotel kelas bintang empat. Rumah ini diberi nama Rumah Sastrawan Tamu dan disewakan dengan harga Rp400 ribu per malam.

 Di samping itu juga dilengkapi sebuah kantin yang menyediakan berbagai makanan dan minuman ala Rumah Puisi. Tentu sangatlah nikmat di tengah udara sejuk menyeruput the hangat maupun kopi panas, ditemani makanan ringan sebagai cemilan. Di sebelah kantin berdiri sebuah surau yang di dinding bagian depannya bergantung puisi Taufiq Ismail berjudul Sajadah Panjang, sementara di sebelah kantin di depan Rumah Budaya terdapat sebuah palanta (gazebo) yang sering digunakan untuk pementasan baca puisi, saluang, rabab, maupun kegiatan kesenian lainnya.

Disaat pagi dan sore hari, pemandangan di Rumah Puisi akan sangat terlihat asri, karena disekitar Rumah Puisi ini bertumbuhan bunga-bunga indah ragam warna dan rupa yang bermekaran. Disekelilingnya terbentang sawah yang berundak-undang yang membentang dari kaki Gunung Singgalang dan ladang penduduk yang bercocok tanam di lahan organik.

 Lokasi ini juga tidak jauh dari Kedai Sayur Mayur di Aie Angek yang menjadi primadona pengunjung yang datang dari luar Sumbar. Rumah Puisi bisa ditempuh dari Padangpanjang dengan jarak sekitar 6 kilometer, sedangkan dari arah Bukittinggi sekitar 11 kilometer. Dari jalan lintas Padangpanjang-Bukittinggi Rumah Puisi sangat dekat.

 Jika pengunjung menggunakan kendaraan umum bisa turun di pinggir jalan lalu sedikit mendaki hingga sampai ke rumah puisi. Tarif angkutan umum dari Padangpanjang ke Rumah Puisi hanya Rp3.000, sedangkan dari Bukittinggi Rp5.000.

Rumah Budaya Fadli Zon

Rumah Budaya didirikan oleh tokoh muda minang yang sukses sebagai pengusaha dan politisi nasional, Fadli Zon. Rumah Budaya ini mulai dibangun pada tahun 2009 di areal Rumah Puisi. Tujuannya sebagai pusat dokumentasi kebudayaan Minangkabau. Didalamya tersimpan sejumlah koleksi baik buku, post card, artefak, manuskrip, keris pusaka, koin kuno, alat musik tradisional, dan berbagai koleksi lainnya.

Bangunan Rumah Budaya berbentuk setengah bagonjong, bertingkat dua. Di tingkat dua terdapat sebuah aula dengan kapasitas 200-an tempat duduk, disekelilingnya berdinding kaca sehingga pengunjung dapat mudah memandang panorama Gunung Singgalang, Tandikek dan Marapi.

 Di ruangan aula ini sangat cocok digunakan sebagai tempat kegiatan, baik seminar, workshop, pelatihan, dengan skala lokal, nasional, regional maupun internasional. AIE ANGEK COTTAGE Aie Angek Cottage adalah bagian dari Rumah Budaya. Bisa disebut mini hotel lantaran tempat ini menyediakan fasilitas penginapan dengan jumlah 22 kamar.

 Letaknya di sebelah gedung Rumah Budaya. Layaknya hotel lainnya, cottage ini juga dikelola secara profesional, dengan sejumlah fasilitas, di antaranya kamar tidur, kamar mandi air panas, televisi, dan kolam ronang air hangat. Bagi tamu yang berkunjung ke Rumah Puisi yang ingin membawa keluarganya bermalam, dengan harga terjangkau dapat memanfaatkan fasilitas Aie Angek Cottage ini. Demikian juga buat perusahaan-perusahaan yang ingin melakukan kegiatan pelatihan/training buat karyawannya, ingin mendapatkan suasana berbeda maka tempat inilah paling cocok dan menjadi alternatif utama.

Pasar Sayur Aie Angek

Mencari sayur mayur segar yang baru diambil dari ladangnya di Sumatra Barat hanya ada di Pasar Sayur Mayur Aie Angek. Di samping itu, pengunjung juga dapat menikmati panorama Gunung Marapi dan Singgalang yang menjulang dari pasar sayur ini. Keindahan kedua gunung itu selalu menciptakan eksotisme yang tak bisa dilukiskan dengan kata-kata.

 Pemandangan alam perawan yang sungguh menawan. Kabut tipis seolah memeluk erat kedua pinggang gunung itu, lalu beranjak perlahan ke Utara. Tak jauh dari Pasar Sayur ini, di kaki Gunung Singgalang, terhamparlah lahan luas pertanian penduduk. Berundak-undak, membentang dari kaki gunung hingga ke tepi jalan yang ceruk.

 Sayur mayur hijau segar yang tumbuh di lahan-lahan subur menyejukkan mata yang memandang. Inilah Pasar Sayur Nagari Aie Angek di tepi Jalan Raya Padang Panjang-Bukittinggi Km 6, Kecamatan X Koto, Kabupaten Tanahdatar, Sumatera Barat. Anda akan terpesona dan ingin berlama-lama disana. Apalagi jika Anda “orang kota” yang selalu akrab dengan bising knalpot dan kotornya debu, suasana alam yang syahdu itu akan selalu menghadirkan rindu.

Tak hanya turis lokal yang suka singgah di pasar sayur ini, turis mancanegara pun banyak yang senang memesan sayur di pasar ini. Tentunya bagi mereka yang hobi memasak. Sayur mayur di pasar sayur Aie Angek harganya terbilang terjangkau pembeli, tidak jauh beda dengan harga di pasaran. Bermacam sayur pun di jual, mulai dari sawi putih, kentang, wortel, slada, sawi pangsit, tomat, terong, bawang merah Rp14.000/kg, dan beberapa jenis sayur mayur lainnya.

 Pasar Sayur ini merupakan pasar yang dibangun Pemda Tanah Datar sebagai salah satu ikon pariwisata di daerah Luhak Nan Tuo itu. Pedagang yang berjualan di pasar yang tidak terlalu luas ini menyewa kedai kepada Pemda. Jumlahnya ada sekitar 15-an pedagang.
sumber di sini

Posting Komentar

0Komentar
Posting Komentar (0)


Media ini tayang pertama kali pada 10 Maret 2009
sebagai media informasi seputar kampung halaman dan rantau.


Tungganai:
. Ketua Ikaira Jaya

Tim Redaksi:
. Oce E Satria Dt Tumuamaik

. Indra Thalib St Lelo Kayo

. Yuliusman Kamil


To Top