Kristenisasi Mengancam Ranah Minang

Nagari Aie Angek
0
Oleh Yeyen Kiram

(admin Group Fb: Umat Islam Sumatera Barat Bersatu Tolak Investasi Bermuatan Misi Pemutadan)

Catatan 1:

Alhamdulillah, seorang saksi bertambah lagi.
Minggu ini, teman-teman yang sedang bekerja membahas strategi advokasi bagi gugatan yuridis terhadap kerbijakan Walikota Padang, yang telah mengeluarkan izin prinsip atas pembangunan kawasan terpadu LG, menemukan saksi. Allah Maha besar.

Ibu ini seorang dokter yang telah bekerja selama 15 tahun di RS.Siloan Jakarta. Saat ini tercatat sebagai aktifis kemasyarakatan. Sekitar tiga tahun yang lalu, ayahnya mengalami sakit berat, dan tentu saja untuk mempermudah penanganan medis, maka sang Ibu membawa orangtuanya yang sudah udzur ke rumah sakit tempatnya berkerja selama ini.

Namun, memang pertolongan medis tak banyak berarti bagi sang Ayah. Hanya seminggu dirawat, sang Ayah berada pada keadaan tak tertolong lagi. Disaat itulah, entah atas kebijakan pimpinan yang mana, tiba-tiba Ayahnya dipisahkan dari anggota keluarga yang ada. Langsung dibawa ke sebuah ruang steril tertutup, tanpa satupun keluarga yang boleh mendampingi.
Di saat itulah, berdasarkan pembicaraan dengan teman si ibu sesama tenaga medis, diperoleh kabar bahwa almarhum ayahnya dipisahkan untuk menerima pembaptisan saat sakratul maut menjelang ajal. Dan ini, sudah menjadi tradisi internal tersembunyi. Terutama bagi pasien yang tak begitu sering dikunjungi/didampingi anggota keluarganya.

Saat ini, dokter yang langsung menyatakan berhenti bekerja di RS.Siloan, beberapa hari setelah kejadian tersebut, bersama beberapa tenaga medis lainya, dengan alasan yang sama, menyatakan siap menjadi saksi jika tim advokasi memerlukan kehadiran mereka.
Semoga Allah mengampuni kesalahan dan dosa almarhum, sang ayah.


Catatan 2:
Assalammualaikum, wr.wb ,

@ All, Dunsanak sadonyo nan denai dihormati :

Maaf baribu kali maaf, ternyata thread yang dibuat siang tadi telah menimbulkan polemik diantara awak samo awak di ruangan ko. Ambo baru bisa membalas kini ko, karena begitu selesai membuat thread tersebut, harus langsung berangkat ke Payakumbuh. Mengurus persoalan "perampasan" warisan budaya dani tanah ulayat serta sumber kekayaan alam kita di ranah Minang, yang jauh lebih "mengerikan" dari persoalan LG - Siloam nan di Padang.

Baiklah, akan saya jelaskan pertanyaan2 yang muncul dari dunsanak denai sadonyo:

1. Maafkan, saya tak bisa beritahukan sumber informan dan narasumber saya secara lengkap sebagaimana keinginan para dunsanak. Karena saya tak berhak secara sepihak melakukanya. Lagian , kami telah terikat pada komitmen untuk melindunginya, para saksi. Jadi, mohon hal ini dimengerti, karena bagaimanapun ef be adalah sebuah ruang publik juga.

2. Kenapa baru sekarang beliau, informan kami berani bicara? Sebetulnya, beliau sudah sering bicara tentang hal ini, tapi tak ada yang 'percaya'. Bahkan, beliau telah akan menempuh jalur hukum, namun kemudian berubah pikiran karena ada yang meminta untuk tidak diteruskan, karena akan berkesan SARA. Sebab ada tuduhan bahwa beliau mencoba melakukan pembalasan karena, telah berhenti. Menurut ybs, beliaulah yang minta berhenti. Namun, publik telah dikacaukan oleh informasi bahwa beliaulah yang dipecat. Sehingga timbul kesan nantinya sebagai bentuk upaya yang berkesan melampiaskan rasa sakit hati.

3. Pernyataan beliau disampaikan dalam sebuah ceramah agama, di sebuah mesjid di kota Padang. Jadi, adakah orang berani melakukan kebohongan dalam mesjid? Entahlah. Ahli agama akan paham menjelaskanya. Namun, kami hanya bisa mengikat kebenaran melalui perjanjian tertulis, hitam di atas putih, tentang fakta2 yang benar. Karena, pada saat itupun kami masih yakin, belum semua kebenaran lagi terungkap.

Jadi, adanya pertanyaan, setelah 15 tahun bekerja, dan kenapa baru sekarang diungkapkan, maka ybs lah yang lebih tepat rasanya mampu menjelaskan. Tetapi tentu saja bukan sekarang waktunya. Karena para saksi belum diberi perlindungan hukum secara legal lg. Untuk itu, mohon dipahami kerja yang sedang kami lakukan di lapangan saat ini.

Saya rasa, cukuplah jawaban yang saya berikan untuk sementara.
Terpulang pada dunsanak semua, bagaimana menyikapi. Namun hendaknya, janganlah sampai merusak silaturrahmi diantara kita sesama muslim pula....

(Maaf, sayapun tak bisa memberitahukan detil, dimana posisi saya sekarang ini, pada saat mebuat status ini. Yang jelas, sinyal internet disini 'sasak angok', dan perangkat saya, masih manual pula....)

Terimakasih buat perhatian semuanya.

Sekedar menambah catatan saja :

Ini pengakuan dari Ketua Bundo Kanduang Sumbar, PR. Raudha Thaib, yang bicara terbuka dalam rapat penolakan pertama ormas Islam, dan lembaga, tentang rencana LG, Mei 2013, di kantor LKAAM, yang sempat saya catat :
" Sudah beberapa tahun ini, setiap tahun saya didatangi selalu oleh beberapa orang remaja puteri, yang membawa surat rekomendasi dari SMU Pelita Harapan, untuk melakukan penelitian di Sumatera Barat. Objek penelitian mereka adalah , " kenapa Islam bertahan di ranah MK? Dan kenapa sulit bagi orang MK melepaskan adat dan budayanya?..." Selain itu, masih ada beberapa bentuk penelitian tentang sistim dan karakter generasi muda Minang dewasa ini.."

Sepanjang bersifat penelitian ilmiah, tentulah hal ini tak menjadi keberatan sama sekali bagi seorang Raudha Thaib. Namun sekarang, tiba-tiba beliau menyadari...kalau remaja-remaja manis berjilbab yang datang menemuinya, juga memiliki kalung dari identitas agama yang lain.

Tahukah bahwa penelitian kebudayaan tersebut merupakan laporan wajib yang harus diselesaikan oleh para siswa sebelum bisa dinyatakan lulus? Dan wilayah penelitian mereka, hanya di SUMATERA BARAT saja......!
Tags

Posting Komentar

0Komentar
Posting Komentar (0)


Media ini tayang pertama kali pada 10 Maret 2009
sebagai media informasi seputar kampung halaman dan rantau.


Tungganai:
. Ketua Ikaira Jaya

Tim Redaksi:
. Oce E Satria Dt Tumuamaik

. Indra Thalib St Lelo Kayo

. Yuliusman Kamil


To Top